Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 27 September 2012

TEKANAN DARAH

TEKANAN DARAH


BAB  I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Darah adalah cairan yang sangat kompleks, terdiri dari kedua elemen terbentuk (sel darah merah, sel darah putih, platelet) dan plasma. sel-sel darah merah (eritrosit) adalah unsur terbentuk paling umum, membawa oksigen ke sel tubuh melalui komponen utama mereka, hemoglobin. sel darah putih pada umumnya hadir di sekitar 1/700th jumlah eritrosit dan berfungsi sebagai mediator dari respon imun terhadap infeksi atau rangsangan lain peradangan.
Platelet adalah unsur terbentuk yang berpartisipasi dalam koagulasi. Plasma sebagian besar air, elektrolit, dan protein plasma, yang dengan sendirinya sangat kompleks. protein plasma yang paling penting dalam pembekuan darah adalah faktor koagulasi. Karena darah beredar ke seluruh tubuh, perubahan pada elemen darah normal fisiologi-baik dibentuk atau plasma protein-mungkin memiliki konsekuensi yang merugikan luas. (1)
Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat Anda istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring.
B.            Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini :
1.      Mempelajari cara – cara pengukuran tekana darah arteri
2.      Mempelajari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pengertian
Tekanan darah berarti tenaga yang digunakan oleh darah terhadap satuan daearah dinding pembuluh tersebut. Bila seseorang menagatakan bahwa tekanan dalam pembuluh adalah 50 mmHg, hal itu berarti bahwa daya yang di hasilkan cukup untuk memdorong kolom air raksa melawan gravitasi sampai setinggi 50 mm. Bila tekanan adalah 100 mmHg, kolom air raksa akan didorong setinggi 100 milimeter.(1)
Tekanan darah adalah kekuatan tekanan darah dinding pembuluh darah tersebut. Selama sisitol, pada dinding pembuluh darah adalah yang terbesar selama sistol, jatuh ke titik terendah.(2)
Aliran darah masuk dan keluar dari jantung dikendalikan oleh katup pada inlet dan outlet ventrikel masing-masing. Katuip  ini mengalir darah jantung memastikan bahwa hanya pada satu arah. suara yang kita dengar saat mendengarkan jantung  adalah suara dari catup penutupan. ini membuat jantung  mungkin untuk waktu siklus jantung untuk menentukan seberapa cepat atau lambat darah sedang dipompa masuk dan keluar dari jantung(3)

B.       Bentuk – bentuk Tekanan Darah.
Bentuk – bentuk tekanan darah yaitu :
1.    Eritrosit
Mature sel darah merah berbentuk cakram cekung dua diisi dengan hemoglobin, yang berfungsi sebagai komponen pengangkut oksigen dalam darah. Berbeda dengan sel yang paling lain, mereka tidak memiliki inti pada saat jatuh tempo; inti mereka diekstrusi selama tahap akhir pembangunan eritrosit. Adanya eritrosit dengan inti di hapusan darah perifer menunjukkan suatu keadaan penyakit yang mendasarinya.Sel-sel normal merah sekitar 8 m dengan diameter, ukuran yang lebih besar dari kapiler terkecil.(4)
Namun, bentuk cekung ganda mereka memberikan fleksibilitas yang cukup untuk menyelinap melalui kapiler kecil dan mengantarkan oksigen ke jaringan. Setelah diekstrusi dari sumsum tulang, eritrosit individu fungsi selama sekitar 120 hari sebelum mereka dikeluarkan dari sirkulasi oleh limpa.
2.   Anemia
Anemia berarti kekurangan hemoglobin dalam darah, yang dapat disebabkan oleh salah satu sel darah merah terlalu sedikit atau terlalu sedikit hemoglobin dalam sel. Beberapa jenis anemia dan penyebab fisiologis mereka adalah sebagai berikut
a.    Anemia akibat kehilangan darah
b.    Anemia aplastik
c.    Anemia megaloblastik
d.   Anemia hemofilik
3.    Polisitemia
Polisitemia sekunder. Setiap kali jaringan menjadi hipoksia karena terlalu sedikit oksigen di udara bernapas, seperti pada ketinggian tinggi, atau karena kegagalan pengiriman oksigen ke jaringan, seperti gagal jantung, organ pembentuk darah secara otomatis menghasilkan jumlah besar merah ekstra sel darah. Kondisi ini disebut polisitemia sekunder, dan jumlah sel darah merah yang biasa naik ke 6-7 million/mm3, sekitar 30 persen di atas normal.
Jenis umum dari polisitemia sekunder, disebut polisitemia fisiologis, terjadi pada pribumi yang tinggal di ketinggian 14.000 kaki ke 17.000, di mana oksigen atmosfer sangat rendah.The jumlah darah biasanya 6-7 million/mm3; ini memungkinkan orang-orang untuk melakukan cukup tinggi tingkat bekerja terus menerus bahkan dalam suasana jernih.
4.    Granulosit-Neutrofil, Eosinofil, dan Basofil
Para granulosit adalah sel-sel darah putih yang paling umum; ini, neutrofil yang paling banyak, diikuti oleh eosinofil dan Basofil. Perkembangannya, ketiga jenis mirip: Ketika mereka dewasa, inti mereka menjadi lebih rumit dan multilobed, dan masing-masing mengembangkan sitoplasma penuh dengan butiran.
Butir ini mengandung berbagai enzim, prostaglandin, dan mediator peradangan, dengan faktor-faktor tertentu tergantung pada jenis sel basofil berisi butiran biru atau ungu yang sangat gelap ketika diwarnai dengan baik Giemsa atau Wright noda. Basophil butiran yang besar dan biasanya mengaburkan inti karena kepadatan mereka.
Eosinofil mengandung besar, mencolok "inti sel" butir (pewarnaan merah dengan Wright atau Giemsa's stain). inti eosinofil biasanya bilobed. Biasanya, eosinofil berfungsi sebagai bagian dari respon inflamasi untuk parasit terlalu besar untuk ditelan oleh sel kekebalan tubuh individu. Mereka juga terlibat dalam beberapa reaksi alergi.
Neutrofil mengandung butiran yang "neutrophilic" (yaitu, tidak eosinofilik atau basophilic). Meskipun mereka mendominasi dalam darah, fungsi utama mereka sebenarnya pada jaringan, mereka harus meninggalkan darah dengan memasukkan sendiri antara sel endotel dari vaskular untuk mencapai situs dari cedera atau infeksi. butiran mereka mengandung enzim yang sangat aktif seperti myeloperoxidase, yang, bersama dengan ion oksigen radikal bebas yang dihasilkan oleh enzim membran seperti fosfat dinukleotida nicotinamide adenin (NADPH) oksidase, membunuh bakteri yang menelan neutrofil melalui endositosis atau fagositosis.(4)

C.      Tekanan Darah Arteri
Tekanan darah arteri adalah kekuataan tekanan darah ke dinding pembuluh darah yang memampunya. Tekanan ini berubah – ubah pada setiap tahap siklus jantung. Selama sistole ventrikel kiri memaksa darah masuk aorta, tekanan naik sampai puncak, yang disebut tekanan sistolik. Selama diastole tekanan turun, nilai terendah yang dicapai disebut tekanan diastolik.(5)
Tekanan di dalam aorta dan dalam arteri brakialis dan arteri besar lain pada orang dewasa muda meningkat mencapai nilai puncak atau tekanan sistolik kira – kira 120 mmHg selama tiap siklus jantung dan turun ke nilai minimal atau tekanan diastolik sekitar 70 mmHg. Tekanan nadi adalah perbedaan antara tekanan sistolik dan tekanan diasyolik, secara normal sekitar 50 mmHg. Tekanan rata – rata adalah tekanan rata – rata selama siklus jantung.(6)
Tekanan darah arteri adalah satu kesatuan yang memelihara perfusi jaringan, atau suplai darah ke kapiler, dalam berbagai kondisi fisiologis, termasuk perubahan posisi tubuh, aktivitas otot dan sirkulasi volume darah. Tekanan darah arteri di tentukan oleh curah jantung (volume darah yang dipompa jantung selama 1 menit) dan resistensi perifer. Kenaikkan satu atau keduanya akan meningkatkan tekanan arteri. Tekanan arteri rata – rata (MAP), yang merupakan tekanan arteri rata –rata di sepanjang siklus jantung, tergantung pada sifat drastis dari dinding arteri dan volume rata – rata darah dalam sistem arteri.(3)

D.      Pengaturan Tekanan Darah
Tekanan darah dikontrol oleh otak, sistem saraf otonom, ginjal, beberapa kelenjar endokrin, arteri dan jantung. Otak adalah pusat pengontrol tekanan darah di dalam tubuh. Serabut saraf adalah bagian sistem saraf otonom yang membawa isyarat dari semua bagian tubuh untuk menginformasikan kepada otak perihal tekanan darah, volume darah dan kebutuhan khusus semua organ. Semua informasi ini diproses oleh otak dan keputusan dikirim melalui saraf menuju organ-organ tubuh termasuk pembuluh darah, isyaratnya ditandai dengan mengempis atau mengembangnya pembuluh darah. Saraf-saraf ini dapat berfungsi secara otomatis.
Ginjal adalah organ yang berfungsi mengatur fluida (campuran cairan dan gas) di dalam tubuh. Ginjal juga memproduksi hormon yang disebut renin. Renin dari ginjal merangsang pembentukan angiotensin yang menyebabkan pembuluh darah kontriksi sehingga tekanan darah meningkat. Sedangkan hormon dari beberapa organ juga dapat mempengaruhi pembuluh darah seperti kelenjar adrenal pada ginjal yang mensekresikan beberapa hormon seperti adrenalin dan aldosteron juga ovari yang mensekresikan estrogen yang dapat meningkatkan tekanan darah. Kelenjar tiroid atau hormon tiroksin, yang juga berperan penting dalam pengontrolan tekanan darah.(7)
Pada akhirnya tekanan darah dikontrol oleh berbagai proses fisiologis yang bekerja bersamaan. Serangkaian mekanisme inilah yang memastikan darah mengalir di sirkulasi dan memungkinkan jaringan mendapatkan nutrisi agar dapat berfungsi dengan baik. Jika salah satu mekanisme mengalami gangguan, maka dapat terjadi tekanan darah tingggi.
Tekanan darah sangat penting dalam sistem sirkulasi darah dan selalu diperlukan sebagai daya dorong untuk mengalirkan darah dalam arteri, arteriola, kapiler, dan sistem vena sehingga terbentuk aliran darah yang menetap. Jantung bekerja sebagai pemompa darah yang dapat memindahkan darah dari pembuluh vena ke pembuluh arteri pada sistem sirkulasi tertutup. Aktivitas pompa jantung berlangsung dengan cara mengadakan kontraksi dan relaksasi sehingga menimbulkan perubahan tekanan darah dalam sisitem sirkulasi.(8)
Pada perekaman tekanan nadi dalam sistem arteri saat itu tampak kenaikan tekanan arteri sampai pada puncaknya sekitar 120 mmHg. Tekanan ini disebut tekanan sistole, kenaikkan ini menyebabkan serta mengalami distensi sehingga tekana dalamnya turun sedikit. Pada saat diastole ventrikel, tekanan aorta cenderung menurun sampai dengan 80 mmHg. Tekanan ini dalam pemeriksaan disebut dengan tekanan diastolik. Dengan adanya perubahan ini maka pada siklus jantung. Inilah yang menyebabkan terjadinya aliran darah di dalam sistem sirkulasi tertutup pada tubuh manusia.(8)

E.       Pengukuran  Tekanan Darah
Mengukur tekanan darah dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Sfigmanometer dan steteskop yang dilakukan pada arteri brikialis diletakkan siku yang bisa teraba secara jelas.
Bunyi jantung dapat di dengar pada arteri briakialis, tempat bunyi pertama sebagai tekanan sistol dan diastol.
Faktor – faktor yang mempengaruhi tekanan darah :
1.    Kekuataan jantung memompa darah, membuat tekanan yang dilakukan jantung sehingga darah bisa beredar keseluruh tubuh dan di arah dapat kembali ke jantung.
2.    Viskisitas (kekntalan) darah, disebabkan oleh protein plasma dan jumlah darah yang beredar dalam aliran tubuh.
3.    Tahanan tepi yaitu tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalir dalam pembuluh darah dalam sirkulasi darah besar yang berada dalam arterial.(9)
Metode  tidak langsung untuk mengukur aliran darah berbagai organ daklam manusia termasuk adaptasi dari teknik Fick dan pengenceran indikator.(10)
Tekanan darah dapat di ukur dengan dua metode :
1.         Metode Langsung (Direct Method)
Metode ini menggunakan jarum atau kanula yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah dan dihubungkan dengan manometer.  Metode ini merupakan cara yang sangat tepat untuk pengukuran tekanan darah tapi butuh peralatan  yang  lengkap  dan ketrampilan khusus.
2.         Metode tidak langsung (Inderct Method)
Metode ini menggunakan Sphygmomanometer (tensi meter). Tekanan darah dapat diukur dengan tiga cara yaitu :
1)   Cara Palpasi
Dengan cara ini hanya dapat diukur tekanan sistolik. Metode palpasi harus di lakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan yang diharapkan. Palpasi juga dilakukan bila tekanan darah sulit di dengarkan. Tetapi, dengan Palpasi tekanan diastolic tidak dapat ditentukan dengan akurat.
Gambar pengukuran cara palpasi
2)   Cara Auskultasi
Dengan cara ini dapat diukur tekanan darah sistolik maupun tekanan distolik,cara ini memerlukan alat ‘Stethoscope”.

Dengan Metode ini pertama kali di perkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolik  dan diastolis dapat diukur  dengan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul akibat aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanaan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus di perhatikan bahwa terdapat suatu jarak yang paling sedikit 5 cm, antar amanset dan tempat meletakkan stetoskop. Bunyi yang terdengar disebut Bunyi Korotkoff.(11)
Gambar Pemeriksaan Palpasi
Sejalan dengan pengenduran manset, turbulensi aliran darah melalui arteri brakialis menimbulkan rangkaina suara. Hal ini dikelompokkan menjadi 5(lima) fase suara. Fase 1 ditandai oleh suara yang jelas, suara menghentak dan berulang, bersamaan dengan pemunculan kembali denyut nadi yang teraba. Pemunculan awal suara fase 1 ini sama dengan tekanan darah sistolik. Selama fase 2, suara murmur terdengar. Pada fase 3 dan 4, perubahan mulai terjadi dimana suara nadi mulai melemah(biasanya 10 mmHg diatas tekanan darah diastolik yang sebenarnya). Pada fase 5, suara mulai hilang, dan menunjukkan tekanan darah diastolik.(11)
Bunyi korotkoff dihasilkan oleh arus turbulen dalam arteri briakialis. Arus laminar dalam arteri yang tidak berkontraksi adalah tidak bersuara, tetapi bila arus menyempit ,kecepatan aliran melalui konstruksi melampaui kecepatan kritis dan terjadilah arus turbulen.(6)
Dalam menetukkan tekanan darah dengan cara auskultrasi, tekanan dalam manset mula- mula dinaikkan sampai diatas tekanan sistolilk arteri. Selama tekanan manset lebih tinggi daripada tekanan sistolik, arteri brikiali akan tetapi akan tetap kolaps dan tidak akan ada darah yang mengalir kedalam arteri yang distal selama siklus penekanan.(11) 
3)   Cara Osilasi
Dalam metode ini kita hanya melihat osilasi pada manometer. Saat timbulnya pada manometer menunjukkan tekanan sistolik. Tekanan manset terus di turunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolik.(10)

F.       Klasifikasi Nilai Tekanan Darah
Berikut ini klasifikasi tekanan darah berlaku bagi orang dewasa berusia 18 tahun atau lebih. Ini didasarkan pada rata-rata pembacaan tekanan darah yang diukur dengan baik selama 2 atau lebih kunjungan kantor.
Klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa
Kategori
diastolic, mmHg
Hypotensi
< 90
atau < 60   
Normal
 90 – 119
Dan 60 – 79   
Prahipertensi
120 – 139
atau 80 – 89
Tahap 1 hipertensi
140 – 159
Atau  90 – 99
Tahap 2 hipertensi
≥ 160
or ≥ 100 

Tabel Klasifikasi tekanan Darah untuk Dewasa di Atas 18 Tahun

Kategori
Diastolic
Sistolik
Pada masa bayi
50
70 sampai 90
Pada masa anak-anak
60
80 sampai 100
Selama masa remaja
60
90 sampai 110
Dewas muda
60 sampai 70
110 sampai 125
Umur lebih tua
80 sampai 90
130 sampai 150

Tabel Klasifikasi Tekanan Darah Normal Sesuai pada Rentang Usia

G.      Penyakit – penyakit Tekanan Darah
1.         Tekanan darah tinggi
Tekanan darah tinggi atau Hipertensi adalah kondisi medis diman terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempengaruhi sekurang – kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat, diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.(11)
Berdasarkan faktor akibat Hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
-    Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
-    Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
-    Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.(12)
Gambar. Penyempitan pembuluh darah
2.         Anemia
Anemia berarti kekurangan hemoglobin dalam darah, yang dapat disebabkan oleh salah satu sel darah merah terlalu sedikit atau terlalu sedikit hemoglobin dalam sel. Beberapa jenis anemia dan penyebab fisiologis mereka adalah sebagai darah rugi anemia. Setelah perdarahan cepat, tubuh bagian daklam menggantikan cairan plasma dalam satu sampai tiga hari, tapi ini meninggalkan konsentrasi rendah sel darah merah, jika perdarahan yang kedua tidak terjadi, konsentrasi sel darah merah biasanya kembali normal dalam waktu 3 sampai 6 minggu.(13)
3.          Aterosklerios
Aterosklerios adalah salah satu penyebab jantung iskemik disebabkan pengendapan kolesterol dan zat lainnya pada dinding arteri, yang membentuk plak yang mempersempit arteri. Hal ini terkait dengan beberapa kebiasaan kesehatan yang buruk,seperti merokok dan diet lemak tinggi. Kedua faktor merupakan parameter penting untuk psikolog kesehatan dan menjelaskan mengapa ada begitu penekanan di lapangan pada perubahan perilaku kesehatan yang buruk.(2)
4.         Angina Pektoris
Angina Pektoris adalah nyeri jantung pada sebagian orang dengan kontraksi arteri koronaria yang progresif dan mulai muncul bila beban jantung menjadi terlampau dengan aliran darah koroner yang tersedia.(1)
5.         Infark Miokardium
Infark Miokardium yaitu perubahan irreversibel dan kematian sel –sel otot yang disebabkan suplai darah ke bagian miokardium terganggu. Infark miokardium sering berkomplikasi dengan aritmia ventrikel yang serius dengan ancaman fibrilasi ventrikel dan kematian.(6)





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Nama Laporan
Pemeriksaan Tekanan Darah

B.       Alat dan Bahan
1.         Manometer air raksa atau aneroid
2.         Stetoskop

C.      Prosedur Kerja
Dalam mencatat tekanan darah secara fisiologis, orang coba harus berada dalam keadaan yang menyenangkan dan lepas dari pengaruh-pangaruh yang dapat mempengaruhi hasil pencatatan. Pencatatan tekanan darah ini dengan metode tak langsung.
1.         Cara Palpasi (metode Riva Rocci)
Segala bentuk pakaian harus dilepas dari lengan atas dan manset dipasang ketat dan sempurna pada lengan. Bila manset tidak terpasang dengan ketat maka dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Sekarang rabalah arteri radialis pada pergelangan tangan orang coba dan tekanan dalam manset dinaikkan dengan memompa sampai denyut nadi (denyut arteri radialis) menghilang. Tekanan dalam manset kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan kira-kira 3 mm/dt. Saat di mana denyut arteri teraba kembali menunjukkan tekanan darah sistolis. Metode palpasi dilakukan sebelum melakukan aktivitas auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan yang diharapkan.
2.         Cara Auskultasi
Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolis dan diastolis dapat diukur dengan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul pada arteri brachialis yang disebut bunyi Korotkoff. Bunyi ini timbul akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak yang paling sedikit 5 cm, antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Mula-mula rabalah arteri brachialis untuk menentukan tempat meletakkan stetoskop. Kemudian pompalah manset sehingga tekanannya melebihi tekanan diastolis (yang diketahui dari palpasi). Turunkan tekanan manset perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop di atas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak terdengar suatu bunyi kemudian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi Korotkoff dan dapat dibagi dalam empat fase yang berbeda:
1)        Fase I
Timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi mengetuk yang jelas dan makin lama makin keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmHg berikutnya. Ini disebut pula nada letupan.
2)        Fase II
Bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan  tekanan 15-20 mmHg.
3)        Fase II
Bunyi sedikit berubah dalam kualitas tetapi menjadi lebih jelas dan keras selama penurunan  tekanan 5-7 mmHg berikutnya.
4)        Fase IV
Bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg   berikutnya. Setelah itu bunyi menghilang.
5)        Fase V   
Titik dimana bunyi menghilang.
a.    Permulaan dari fase I yaitu di mana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistol
b.    Permulaan fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sebagai berikut: Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arterial yang diukur secara langsung.
Fase V terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jauh lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebenarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai indeks tekanan diastolis. berikutnya. Ini disebut pula nada letupan.
6)        Fase II
Bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan  tekanan 15-20 mmHg.
7)        Fase II
Bunyi sedikit berubah dalam kualitas tetapi menjadi lebih jelas, keras selama penurunan tekanan 5-7 mmHg berikutnya.
8)        Fase IV
Bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg  berikutnya. Setelah itu bunyi menghilang.
9)        Fase V   
Titik dimana bunyi menghilang.
a.    Permulaan dari fase I yaitu di mana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistol
b.    Permulaan fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sebagai berikut: Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arterial yang diukur secara langsung.
10)     Fase V  
Terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jauh lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebenarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai indeks tekanan diastolis.

Catatlah hasil pemeriksaan sebagai berikut: 120/82/78, yaitu 120 = tekanan sistolis; 82 = fase IV; 78 = fase V. Bila fase IV dan fase V adalah sama , maka ditulis 120/78/78. Ulangi pencatatan beberapa kali untuk memperoleh nilai yang pasti.
3.         Cara Osilasi
Yaitu dengan melihat osilasi pada manometer. Manset dipompa sampai tekanannya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolis yang ditentukan dengan metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa manometer. Saat timbulnya osilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolis. Tekanan manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolis.
Di dalam praktek, ketiga cara ini harus dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya.
      Protokol
·         Tekanan Darah Istirahat
Ukurlah tekanan darah orang coba setelah berbaring 5 menit, setelah duduk 5 menit dan setelah berdiri 5 menit. Orang coba harus benar-benar dalam keadaan santai. Membandingkan hasil ketiga pencatatn ini. Dalam mencatat tekanan darah, digunakan kombinasi ketiga cara tadi.
·         Pengaruh Perubahan Sikap
Orang coba berbaring 5 menit. Ukurlah tekanan darah, kemudian orang coba diminta segera berdiri dan ukurlah segera tekanan darah dengan lengan lurus ke bawah. Tekanan diukur 0,1,2,3,4 dan 5 manit sesudah berdiri.


·         Pengaruh Kerja Otot
Orang coba diminta untuk melakukan kegiatan misanya berlari ditempat selama kurang lebih 3-5 menit kemudian catatlah tekanan darah kontrol (sebelum kegiatan).
·     Pengaruh Berpikir
Catatlah tekanan darah kontrol. Kemudian orang coba diminta berpikir denga kuat yaitu memecahakan soal matematika yang susah. Catatlah tekanan darahnya secepat mungkin, kalau perlu selagi berpikir. Bandingkanlah dengan tekanan darah kontrol.
·     Percobaan Valsava (Valsava Manuver)
Buatlah pencatatan kontrol. Orang coba diminta untuk melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup (mengedan). Catatlah tekanan darah pada saat ini dan bandingkan dengan tekanan kontrol.
·     Percobaan Muller
Orang coba diminta untuk inspirasi kuat dengan glottis tertutup. Ukurlah tekanan darah dan bandingkan dengan tekanan kontrol.

D.      Hasil Percobaan
1.    Orang coba 1
Nama   `           : Tn. H
Jenis kelamin   : laki-laki
Umur               : 19 tahun
Hasil pemeriksaan :
            Tekanan Darah            : 110/70mmHg(auskultasi) dan 120 (Palpasi)
            Saat Berpikir               : 140/70 mmHg
            Setelah berpikir           : 110/70 mmHg(auskultasi) dan 100 mmHg(palpasi)
            Tahan Nafas                : 110/70mmHg (auskultasi) dan 100mmHg (palpasi)
2.    Identitas orang coba 2
Nama   `           : Tn. Ar
Jenis kelamin   : laki-laki
Umur               : 19 tahun
Hasil pemeriksaan                              
Tekanan darah istirahat :
Berbaring        : 110/70 mmHg(auskultasi) dan 100mm Hg(palpasi)
Duduk             : 120/80 mmHg(auskultasi) dan 110 mmHg(palpasi)
Berdiri             : 130/80 mmHg (auskultasi) dan 120 mmHg (palpasi)
Baring lagi       : 110/70 mmHg (auskultasi) dan 100 mmHg (palpasi)
Berdiri lagi      : 110/70 (auskultasi)

F.       Analisis Percobaan
Sebelum kita melakukan pemeriksaan terhadap orang coba kita harus melakukan pengukuran tekanan darah terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah tekanan darah normalnya pada orang coba satu dan orang coba 2. Pada orang coba satu diperoleh tekanan darah  110/70mmHg(auskultasi) dan 120 (Palpasi). Pada orang coba kedua di peroleh tekanan darah istirahat saat berbaring 110/70 mmHg (auskultasi) dan 100 mmHg (palpasi), 120/80 mmHg(auskultasi) dan 110 mmHg(palpasi).
Tekanan darah akan berubah-ubah sesuai dengan kegiatan dan posisi orang coba. Tekanan darah pada saat rileks atau santai akan lebih baaik atau normal karena pada saat itu tekanan darah berjalan dengan normal tanpa ada faktor yang dapat mengganggu tekanan darah tersebut.
Tekanan darah pada saat dalam posisi berbaring akan berbeda dengan dalam keadaan berdiri atau dalam melakukan suatu kegiatan. Darah adalah sebuah benda cair yang mempunyai sifat mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Otomatis pada saat berbaring darah akan megalir dengan lancar ke seluruh tubuh karena dalam keadaan yang datar dan jantungpun tidak susuh payah memompa darah sehingga tekanan darah orang coba berada dalam batas yang normal.
Pada saat orang coba berdiri, gaya gravitasi bumi meningkat sehingga untuk melancarkan peredaran darah keseluruh tubuh utamanya daerah kepala maka jantung akan memompa lebih kuat daripada dalam keadaan rileks akibatnya tekanan darah akan meningkat. Begitupun pada saat orang coba berpikir, otak memerlukan nutrisi untuk menunjang kerjanya saat berpikir. Akibatnya jantung memompa lebih lebihdari biasanya sehingga tekana darah naik lagi. Begitupun pada saat orang coba dalam posisi duduk, tetapi tekanan darah tidak terlalu sekuat seperti halnya yang terjadi pada saat berdiri.
Intinya tekanan darah akan berubah sesuai dengan kondisi tubuh dan kegiatan yang dilakukan. Utamanya saat beraktivitas maka tekanan darah akan meningkat karena di dalam darah terdapat bahan nutrisi dan energi bagi tubuh saat beraktivitas.






















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Cara – cara pengukuran tekanan darah arteri adalah dengan cara palpasi, auskultasi dan osilasi
2.      Beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis adalah karena istirahat, perubahan sikap, pengaruh kerja otot, dan pengaruh berpikir, inspirasi dan ekspirasi yang kuat.
3.      Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara diantaranya yaitu ketika jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, dan bertambahnya cairan dalam sirkulasi
B.     Saran
1.      Sebaiknya bagian praktikum melengkapi alat-alat laboratorium yang akan digunakan.
2.      Waktu untuk paraktikum perpanjang agar pelaksanaan paraktikum tidak tergesa-gesa
3.      Sebaiknya  ketertiban di dalam praktikum dilaksanakan









2 komentar:

  1. kalo boleh kasih saran gan supaya lebih banyak lagi pengunjungnya ,, buat juga gan daftar pustaka nya gan .. tkb

    BalasHapus