Cari Blog Ini

Senin, 06 Maret 2017

Laporan Pendahuluan Asma





KONSEP DASAR MEDIS

A.       Definisi
Asma bronkhial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap bebagai macam rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar luas di seluruh paru dan derajatnya dapat berubah secara spontan atau setelah mendapat pengobatan.
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflmasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktifitas bronkus dalam berbagai obstruksi jalan nafas, dan gejala pernafasan (mengi dan sesak). Tingkat penyempitan jalan napas dapat berubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses reversibel. Eksaserbasi akut dapat terjadi, yang berlangsung dari beberapa menit sampai jam, diselingi oleh periode bebas gejala. Jika asma dan bronchitis terjadi secara bersamaan, obstrukusi yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut bronchitis asmatik kronik.
Status asmatikus merupakan serangan asma berat yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan konvensional dan merupakan keadaan darurat medik, bila tidak diatasi dengan cepat akan terjadi gagal pernafasan.
Klasifikasi asma berdasarkan frekuensi serangan:
1.    Asma Ringan
a.    Serangan jarang < 1 x dalam 1 bulan
b.    Tidak mengganggu aktivitas
2.    Asma Sedang
a.    Serangan setiap 2-3 minggu atau lebih
b.    Gangguan aktivitas
c.    Dapat diatasi dengan non steroid
3.    Asma Berat
a.    Serangan sering
b.    Gangguan aktivitas
c.    Dapat diatasi dengan steroid



B.       Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan factor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronchial
1.    Faktor predisposisi
a.    Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi, karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
2.    Faktor presipitasi
a.    Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1)        Inhalan, yang masuk melalui saluran   pernapasan
Ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamu  bakteri dan polusi
2)        Ingestan, yang masuk melalui mulut
Ex: makanan dan obat-obatan
3)        Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
Ex: perhiasan, logam dan jam tangan.
b.    Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mampengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma kadang-kadang serangan berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
c.    Stres
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma yang sudah ada. Disamping itu gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/ gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum diobati.
d.    Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana ia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalulintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
e.    Olahraga/ aktivitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktivitas tersebut.
Berdasarkan penyebabnya, asma bronchial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu:
1)        Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) genetic terhadap alergi. Oleh karena karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2)               Intrinsic (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non-alergi yang bereaksi terhadap faktor pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi pernapasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3)   Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karateristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

C.       Patofisiologi
Suatu serangan asthma timbul karena seorang yang atopi terpapar dengan alergen yang ada dalam lingkungan sehari-hari dan membentuk imunoglobulin E (IgE). Faktor atopi itu diturunkan. Alergen yang masuk kedalam tubuh melalui saluran nafas, kulit, dan lain-lain akan ditangkap makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cell (APC). Setelah alergen diproses dalan sel APC, alergen tersebut dipresentasikan ke sel Th. Sel Th memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskanya interleukin 2 (IL-2) untuk berpoliferasi menjadi sel plasma dan membentuk imunoglobulin E (IgE).
IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalan sirkulasi. Bila proses ini terjadi pada seseorang, maka orang itu sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau lebih dengan alergen yang sama, alergen tersebut akan diikat oleh Ig E yang sudah ada dalam permukaan mastoit dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan influk Ca++ kedalam sel dan perubahan di dalam sel yang menurunkan kadar cAMP.
Penurunan pada kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel. Degranulasi sel ini akan menyebabkan dilepaskanya mediator-mediator kimia yang meliputi: histamin, slow releasing suptance of anaphylaksis (SRS-A), eosinophilic chomotetik factor of anaphylacsis (ECF-A) dan lain-lain. Hal ini akan menyebabakan timbulnya tiga reaksi utama yaitu: kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema  mukosa yang menambah semakin menyempitnya saluran nafas, peningkatansekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus. Tiga reaksi tersebut menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap yangsangat lanjut
Berdasarkan etiologinya, asma dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu asma intrinsik dan asma ektrinsik. Asma ektrinsik (atopi) ditandai dengan reaksi alergik terhadap pencetus-pencetus spesifik yang dapat diidentifikasi seperti: tepung sari jamur, debu, bulu binatang, susu telur ikan obat-obatan serta bahan-bahan alergen yang lain. Sedangkan asma intrinsik (non atopi) ditandai dengan mekanisme non alergik yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik seperti: Udara dingin, zat kimia,yang bersifat sebagai iritan seperti: ozon, eter, nitrogen, perubahan musim dan cuaca, aktifitas fisik yang berlebih, ketegangan mental serta faktor-faktor intrinsik lain.
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan pembengkakan bronkus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak nafas, berusaha untuk bernafas dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi (wheezing). Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, penderita tampak pucat, gelisah dan warna kulit sekitar mulai membiru. Sedangkan stadiun ketiga ditandai hampir tidak terdengarnya suara nafas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernafasan tinggi karena asfiksia.

D.      Manifestasi Klinik
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi. Pada beberapa keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan asma seringkali pada malam hari. Penyebabnya tidak di mengerti dengan jelas, tetapi mungkin berhubungan dengan variasi sirkardian, yang mempengaruhi ambang reseptor jalan nafas.
Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laboratorius. Ekspirasi selalu lebih susah dan pajang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dengan menggunakan setiap otot-otot pernapasan. Jalan nafas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum yang terdiri atas sedikit mukus mengandung masa gelatinosa bulut, kecil yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat, dan gejala-gejala retensi karbondioksida, termasuk berkeringat, takikardia dan pelebaran tekanan nadi.
Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meski serangan asma jarang yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat, yang disebut ‘status asmatikus’.

E.       Tes Diagnostik
1.         Pemeriksaan sputum, Pada pemeriksaan sputum ditemukan :
a.         Kristal –kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
b.        Terdapatnya Spiral Curschman, yakni spiral yang merupakan silinder sel-sel cabang-cabang bronkus
c.         Terdapatnya Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus
d.        Terdapatnya neutrofil eosinofil
2.         Pemeriksaan darah, Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan eosinofil meninggi, sedangkan leukosit dapat meninggi atau normal, walaupun terdapat komplikasi asma
a.         Gas analisa darah, Terdapat hasil aliran darah yang variabel, akan tetapi bila terdapat peninggian PaCO2 maupun penurunan pH menunjukkan prognosis yang buruk
b.        Kadang –kadang pada darah terdapat SGOT dan LDH yang meninggi
c.         Hiponatremi 15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
d.        Pada pemeriksaan faktor alergi terdapat IgE yang meninggi pada waktu seranggan, dan menurun pada waktu penderita bebas dari serangan.
e.         Pemeriksaan tes kulit untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergennya dapat menimbulkan reaksi yang positif pada tipe asma atopik.
3.         Foto rontgen, Pada umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma normal. Pada  serangan asma, gambaran ini menunjukkan hiperinflasi paru berupa rradiolusen yang bertambah, dan pelebaran rongga interkostal serta diagfragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, kelainan yang terjadi adalah:
a.         Bila disertai dengan bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah
b.        Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan gambaran yang bertambah.
c.         Bila terdapat komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrat pada paru.
4.         Pemeriksaan faal paru
a.         Bila FEV1 lebih kecil dari 40%, 2/3 penderita menujukkan penurunan tekanan sistolenya dan bila lebih rendah dari 20%, seluruh pasien menunjukkan penurunan tekanan sistolik.
b.        Terjadi penambahan volume paru yang meliputi RV hampi terjadi pada seluruh asma, FRC selalu menurun, sedangan penurunan TRC sering terjadi pada asma yang berat.
5.         Elektrokardiografi, Gambaran elektrokardiografi selama terjadi serangan asma dapat dibagi atas tiga bagian dan disesuaikan dengan gambaran emfisema paru, yakni :
a.         Perubahan aksis jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke kanan dan rotasi searah jarum jam
b.        Terdapatnya tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat RBBB
c.         Tanda-tanda hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES, dan VES atau terjadinya relatif ST depresi.

F.        Komplikasi
1.         Pneumothoraks: keadaan abnormalitas dimana terdapatnya udara dalam rongga thoraks;
2.         Pneumomediastinum dan emfisemi subkutis;
3.         Atelektasis: ketidakmampuan organ paru untuk mengembang dengan sempurna;
4.         Aspergilosis bronkopulmonar alergik,
5.         Gagal napas: keadaan dimana pertukaran oksigen dengan karbondioksida pada paru-paru tidak dapat mengimbangi laju konsumsi oksigen dan produksi karbondioksida pada sel tubuh yang mengakibatkan tekanan oksigen arterial menjadi kurang dari 50 mmHg (hipoksemia) dan tekanan karbondioksida arterial meningkat menjadi lebih dari 45 mmHg (hiperkapnea).
6.         Bronkhitis: radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan laring.

G.      Penatalaksanaan
Pengobatan asma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.
1.         Pengobatan non farmakologik
a.    Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan.
b.    Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.

c.    Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
2.    Pengobatan farmakologik
a.    Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat ini adalah metaproterenol (Alupent, metrapel).
b.    Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali sehari.
c.    Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol (beclometason dipropinate) dengan dosis 800  empat kali semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d.    Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak. Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
e.    Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari. Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
f.      Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.
3.    Pengobatan selama serangan status asmatikus            
a.    Infus RL : D5  = 3 : 1 tiap 24 jam
b.    Pemberian oksigen 4 liter/ menit melalui nasal kanul
c.    Aminophilin bolus 5 mg/ kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit dilanjutkan drip RL atau D5 mentenence (20 tetes/ menit) dengan dosis 20 mg/ kg BB/ 24 jam.
d.    Terbutalin 0,25 mg/ 6 jam secara sub kutan.
e.    Dexametason 10-20 mg/ 6 jam secara intra vena.
f.      Antibiotik spektrum luas.






























KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A.       Pengkajian
1.         Identitas penderita (mencakup: nama, jenis kelamin, umur, suku, agama, pekerjaan, alamat, pendidikan, status perkawinan)
2.         Status perawatan (ruang rawat, nomor rekam medik, tanggal dan jam masuk, tanggal dan jam pengambilan data, diagnosa masuk, cara masuk, pindahan dari rumah sakit atau ruangan mana, serta tim atau perawat yang bertanggung jawab)
3.         Keadaan umum pasien
4.         Kebutuhan dasar
a.    Rasa nyaman nyeri
b.    Nutrisi : kebutuhan nutrisi pada pasien asma dapat terganggu akibat adanya gangguan berupa sputum, mual atau muntah.
c.    Kebersihan perorangan : kebersihan pada asien asma dapat terganggu utamnya pada pasien dengan kelemahan
d.    Cairan : masalah kebutuhan cairan dapat terjadi akibat kurangnya minum
e.    Aktivitas dan latihan : aktivitas dan latihan dapat terganggu akibat kelemahan otot yang tidak mempunyai sumber energi yang cukup akibat dari kurangnya oksigen dan nutrien yang masuk ke tubuh
f.      Eliminasi : eliminasi dapat terganggu terutama pada pasien dengan kelemahan dan juga pada kondisi kekurangan cairan dan nutrisi
g.    Oksigenasi : akibat dari proses asma, jalan nafas menyempit sehinngga proses pemenuhan oksigen akan terganggu
h.    Tidur dan istirahat : akibat sesak, saraf simpatis akan terangsan dan RAS akan teraktivasi sehingga respons tidur akan hilang/menurun
i.      Pencegahan terhadap bahaya : pada pasien asma umumnya tidak mengalami masalah
j.      Neurosensoris
k.    Keamanan
l.      Seksualitas
m.  Keseimbangan dan peningkatan hubungan resiko serta interaksi sosial
5.         Genogram
6.         Data pemeriksaan penunjang

A.       Diagnosa keperawatan
  1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas
  2. Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus
  3. Perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan sesak nafas dan batuk
  4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
  5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan kelelahan otot
  6. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya


B.       Rencana Tindakan Keperawatan
a.        Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas
-         Auskultasi bunyi nafas
Rasional : derajat spasme bronkus dengan obstruksi jalan nafas dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius, misal: tidak ada bunyi nafas mengi.
-         Kaji frekuensi nafas
Rasional : takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama adanya stress/ proses infeksi akut
-         Berikan pada klien posisi yang nyaman
Rasional : peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
-         Pertahankan polusi udara minimum, misal: debu, asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional      : merupakan faktor pencetus alergi, pernafasan dan dapat
                    memperberat sesak.
-         Dorong atau bantu latihan nafas abdomen atau bibir
Rasional      :   memberi pasien beberapa cara untuk mengatasi dan
                      mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara.
-         Penatalaksanaan pemberian O2
Rasional      :   dapat memperbaiki/mencegah terjadinya hipoksia
-         Penatalaksanaan pemberian obat sesuai indikasi
·        Bronchodilator
Rasional     :  merilekskan otot pernafasan dan menurunkan kongesti
                     lokal. Menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan
                     produksi mukosa.
·        Metilxantin
Rasional     :  menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos
                    dengan peningkatan langsung siklus AMP. Dapat juga
                    menurunkan kelemahan otot/kegagalan pernafasan
                    dengan meningkatkan kontraktilitas diafragma.


b.      Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus
-         Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk:
·        Nafas dalam dan perlahan sebelum duduk setegak mungkin
·        Gunakan nafas diafragmatik
·        Tahan nafas selama 3 – 5 detik kemudian dengan perlahan hembuskan sebanyak mungkin melalui mulut (sangkar iga bawah dan abdomen harus turun)
·        Ambil nafas kedua, tahan dan batuk dari dada (bukan dari belakang mulut atau tenggorok) dengan menggunakan nafas pendek
·        Demonstrasikan pernafasan  pursed-up
Rasional    :  batuk yang tidak terkontrol melelahkan dan inefektif, dapat menimbulkan frustasi
-         Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekret
·        Pertahankan hidrasi adekuat: meningkatkan masukan cairan 2-4 liter/hari. Bila tidak dikontraindikasikan oleh penurunan cardiac output viskositas sekresi.
·        Pertahankan kelembaban adekuat udara inspirasi
·        Hindari lingkungan yang mengandung stimulasi
Rasional      :   sekresi kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat
                      menyebabkan sumbatan mukus yang dapat menimbulkan
                      atelektasis.
-         Auskultasi paru-paru sebelum dan sesudah tindakan
Rasional      :   pengkajian ini membantu mengevaluasi keberhasilan
                      tindakan
-         Dorong dan berikan perawatan mulut
Rasional      :   hygiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan
                      mencegah bau mulut.
-         Penatalaksanaan pemberian obat sesuai indikasi
·        Expectorant
Rasional      :   mengencerkan sputum sehingga mudah dikeluarkan



c.       Perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan sesak nafas dan batuk
-         Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi
Rasional     : mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensiyang tepat
-         Instruksikan tindakan relaksasi
Rasional      :   membantu menginduksi tidur
-         Hindari mengganggu bila mungkin, misal: membangunkan untuk obat atau terapi.
Rasional : tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar dan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun
-         Penatalaksanaan pemberian sedatif sesuai indikasi
Rasional : Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode transisi dari rumah ke lingkungan baru. Hindari penggunaan kebiasaan, karena obat ini menurunkan waktu tidur REM.

d.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
-         Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makan, dan evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum dan obat. Selain itu, banyak pasien dengan asma mempunyai kebiasaan makan buruk, meskipun kegagalan pernafasan membuat status hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan kalori.
-         Auskultasi bunyi usus
Rasional : penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas.
-         Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tissue.
Rasional      :   rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama
                      terhadap nafsu makan dan membuat mual dan muntah
                      dengan peningkatan kesulitan nafas.
-         Dorong periode istirahat selama 1 jam sebelum dan sesudah makan. Berikan porsi kecil tapi sering
Rasional      :   membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan
                      dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan
                      kalori total.
-         Timbang berat badan sesuai indikasi jika memungkinkan
Rasional      :   berguna untuk menentukan kebutuhan kalori. Penurunan
                      berat badan dapat berlanjut meskipun masukan adekuat
                      sesuai teratasinya edema.
-         Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi
Rasional      :   menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk makan
                      meningkatkan masukan.

e.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan kelelahan otot
-         Atur posisi yang nyaman bagi klien
Rasional      :   meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan energi
                      yang digunakan untuk penyembuhan.
-         Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas, catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda-tanda vital.
Rasional      :   menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan
                      memudahkan pilihan intervensi
-         Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung selama waktu fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajemen stres dan pengalihan yang tepat.
Rasional      :   menurunkan stres dan rangsang berlebihan, meningkatkan
                      istirahat
-         Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional      :pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual
                    pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan
-         Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional      :   meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan
                      suplai dan kebutuhan oksigen
f.        Ansietas berhubungan dengan kurang informasi dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
-         Kaji perasaan klien dan keluarga, beri sikap empati dan dengarkan keluhan klien
Rasional      :   mengurangi kecemasan klien dan keluarga sehingga dapat
                      bekerjasama dalam proses perawatan
-         Berikan informasi/penjelasan pada klien dan keluarga mengenal kondisi, rencana perawatan dan prognosis pasien secara akurat dan memperingatkan kondisi dan situasi
Rasional      :   pemberian informasi yang jelas sehingga menghindari
                      kesalahan persepsi.
-         Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional      :   memungkinkan untuk menyampaikan bahwa yang
                      didasarkan adalah kebutuhan dari individu dan kelancaran
                      proses perawatan.
-         Diskusikan tentang tindakan keperawatan dan medis serta penggunaan obat-obat yang diberi.
Rasional      :   penting untuk perkembangan pemulihan atau pencegahan
                      terhadap komplikasi.














Penyimpangan KDM

                        Faktor intrinsic                                                                         Faktor ekstrinsik
                                                                                                                                       
                     Infeksi oleh kuman                                                                             Alergen
                                    
              Menginfeksi saluran nafas


                                Pengaktifan sel mast sebagai respon imun (makrofag, eosinofil, limfosit)
                                                                                         
                                    Pengaktifan mediator kimiawi (serotonim, bradikinin, histamine)
                                                                                          

            Edema bronkus        Sekresi mukus meningkat               Bronkospasme                    inflamasi


                                                                   Hiperesponsive jalan nafas
                                                                                         
         Hipersekresi mukus dalam               Penyempitan jalan nafas                        Mukosa saluran
               rongga jalan nafas                                                                                        nafas menebal
                                                                   Kompensasi tubuh untuk                                   
                 Sesak nafas dan                    mendapatkan suplai O2 yang                 Penyempitan lumen
                 batuk bersputum                     cukup ke jaringan menurun                                  
                                                                                                                                    Batuk bersputum
                   Pemasukan O2                    Kontraksi otot-otot pernafasan                              
                       inadekuat                                                                                         Peningkatan produksi
                                                              Metabolisme tubuh meningkat                          sputum
                       Pola nafas                                                                                                          
                     tidak efektif                       Pengeluaran energi berlebihan            Jalan nafas tidak efektif
                                                                                                                                                   
                       Serangan                              Cadangan energi kurang                          Bersihan jalan
                      paroksimal                                                                                               nafas inefektif
                                                          Metabolisme ke jaringan terhambat
                    Merangsang                                              
                     sistem saraf                      Kelemahan dan kelelahan otot
                        simpatis                                                  
                                                                        Intoleransi aktivitas
               Mengaktifkan RAS
              dalam mengaktifkan            Dispnea, wheezing, batuk, sputum              Perubahan status
                kerja organ tubuh                                                                                        kesehatan klien
                                                                Merangsang vomiting center                                
             Rapid Eye Movement                                                                                Proses hospitalisasi
                  (REM) menurun                                 Mual/muntah                                              
                                                                                                                            Kurangnya informasi dan
                      Susah tidur                                        Anoreksia                               pengetahuan klien dan
                                                                                                                                    keluarga tentang
                  Perubahan pola                     Asupan makanan berkurang                        penyakitnya
                    Istirahat tidur                                                                                                        
                                                                     Gangguan nutrisi kurang                 Stressor psikologis bagi
                                                                              dari kebutuhan                               klien dan keluarga
                                                                                                                                                     
                                                                                                                                               Ansietas



Daftar Pustaka

Somantri, Irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Ssistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.
Nettina, Sandra M. 2002. Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta:    EGC.
ariebencolenk.blogspot.com/2012/02/askep-asma-bronkial.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar