Cari Blog Ini

Senin, 06 Maret 2017

Skabies (Kudis, Gudik, Budukan, Gatal Agogo, The Itch)




BAB I
KONSEP MEDIS

A.      Defenisi
Skabies (kudis, the itch, gudik, budukan, dan gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya (Mansjoer, 2000).
Penyakit skabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter (Harahap, 2000).
Faktor penunjang penyakit ini antara lain sosial ekonomi rendah, higiene buruk, berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis ekologik. (Carpenito. 2001)

B.       Etiologi
Skabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman Sarcoptes Scabiei varian hominis. Sarcoptes scabiei ini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata (Mansjoer, 2000).

C.      Patofisiologi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau skabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Harahap, 2000).

D.      Manifestasi Klinis
1.    Pruritus nokturnal (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
2.    Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota keluarga.
3.    Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada ujung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum korneum tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan kulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
4.    Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Pada pasien yang selalu menjaga hgiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulosis (Mansjoer, 2000).

E.       Pemeriksaan Penunjang
Cara menemukan tungau :
1.    Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesikel.
2.    Congkel dengan jarum dan letakkan di atas kaca objek, lalu tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop cahaya.
3.    Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar
4.    Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : jepit lesi dengan 2 jari kemudian buat irisan tipis dengan pisau dan periksa dengan mikroskop cahaya.
5.    Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan HE (Mansjoer, 2000).

F.       Komplikasi
Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul dermatitis akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis, limfangitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang skabies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat anti skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal ataupun pemakaian yang terlalu sering.
a.    Urtikaria
Urtikaria adalah reaksi dari pembuluh darah berupa erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal.Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang. Urtikaria akut umumnya berlangsung 20 menit sampai 3 jam, menghilang dan mungkin muncul di bagian kulit lain.
b.    Infeksi sekunder
c.    Folikulitis
Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut (folikel). Pada kulit yang terkena akan timbul ruam, kemerahan dan rasa gatal. Di sekitar folikel rambut tampak beruntus-beruntus kecil berisi cairan yang bisa pecah lalu mengering dan membentuk keropeng.
d.   Furunkel
Furunkel (bisul) adalah infeksi kulit yang meliputi seluruh folikel rambut dan jaringan subkutaneus di sekitarnya.Paling sering ditemukan di daerah leher, payudara, wajah dan bokong.Akan terasa sangat nyeri jika timbul di sekitar hidung atau telinga atau pada jari-jari tangan.Furunkel berawal sebagai benjolan keras bewarna merah yang mengandung nanah. Lalu benjolan ini akan berfluktasi dan ditengahnya menjadi putih atau kuning (membentuk pustula). Bisul bisa pecah spontan atau mengeluarkan nanahnya, kadang mengandung sedikit darah.
e.    Infiltrat
f.     Eksema infantum
Eksema atau Dermatitis atopik atau peradangan kronik kulit yang kering dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak.Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur (Harahap, 2000).

G.      Penatalaksanaan
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
Jenis obat topical :
1.    Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.
2.     Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3.    Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losio, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cup sekali dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.
4.    Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.
5.     Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.
6.    Pemberian antibitika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan (Mansjoer, 2000).
H.      Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, syarat pengobatan, menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik (Mansjoer, 2000).





BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A.      Pengkajian
1.         Identitas penderita (mencakup: nama, jenis kelamin, umur, suku, agama, pekerjaan, alamat, pendidikan, status perkawinan)
2.         Status perawatan (ruang rawat, nomor rekam medik, tanggal dan jam masuk, tanggal dan jam pengambilan data, diagnosa masuk, cara masuk, pindahan dari rumah sakit atau ruangan mana, serta tim atau perawat yang bertanggung jawab)
3.         Riwayat kesehatan
a.         Keluhan utama : Pada pasien skabies terdapat lesi di kulit dan merasakan gatal terutama pada malam hari.
b.        Riwayat kesehatan sekarang : Pasien mulai merasakan gatal dan kemudian menjadi edema karena garukan akibat rasa gatal utamanya pada malam hari.
c.         Riwayat kesehatan dahulu : Pada pasien skabies, tidak ada penyakit tertentu yang diderita sebelumnya oleh pasien yang dapat menimbulkan skabies. Kecuali jika memang sebelumnya pernah mengalami skabies yang besar kemungkinan merupakan akibat dari parasit sakit sebelumnya.
d.        Riwayat kesehatan keluarga : Skabies adalah penyakit yang menular melalui hubungan kontak langsung (kulit dengan kulit) ataupun tak langsung (melalui benda) sehingga jika dalam keluarga terdapat anggota keluarga yang menderita skabies maka besar kemungkinan anggota keluarga yang lain juga akan ikut terjangkit.
4.         Keadaan  umum : Pada dasarnya pasien yang menderita skabies tidak mengalami gangguan
5.         Kebutuhan dasar
a.         Rasa nyaman : Hipertermi dapat ditemukan berhubungan dengan adanya proses inflamasi lokal. Nyeri dapat muncul berhubung dengan adanya luka akibat garukan pada daerah kulit yang gatal.
b.        Nutrisi : Umumnya tidak ditemukan adanya gangguan pada kebutuhan nutrisi
c.         Kebersihan : Pada pasien skabies dapat terjadi masalah kebersihan diri akibat dari pasien tidak paham tentang penyakitnya sehingga dapat beranggapan bahwa mandi (membasuh daerah yang lesi) akan menambah parah penyakit.
1)        Kulit : Cenderung mengalami gangguan pada daerah lesi utamanya dari segi integritas kulit karena bisa terdapat kunikulus dan vesikel.
2)        Rambut : Jika skabies yang menyertai pedicolosis maka kulit kepala dapat terganggu
3)        Kuku : Kebersihan kuku juga berpengaruh karena terkadang ketika menggaruk parasit akan ikut di kuku. Luka dapat terjadi akibat dari menggaruk daerah yang gatal. Keadaan kuku dapat menjadi kotor apabila ada kebiasaan menggaruk dan dapat sebagai jalan penyebaran skabies jika menyentuh daerah tubuh yang lain.
d.        Cairan : umumnya tidak terjadi masalah pada kebutuhan cairan penderita.
e.         Aktivitas dan latihan : umumnya pada pasien skabies tidak dijumpai kesulitan dalam bergerak karena yang terganggu adalah kulit dan buka otot
f.         Eliminasi : kebiasaan BAB dan BAK pasien tidak mengalami gangguan
g.        Oksigenasi : umumnya tidak terjadi masalah pada kebutuhan oksigenasi
h.        Tidur dan istirahat : kebutuhan istirahat tidur dapat terganggu pada pasien yang mengeluhkan gatal terutama pada malam hari
i.          Pencegahan terhadap bahaya : umumnya tidak terdapat masalah
j.          Neurosensoris : umumnya tidak ditemukan adanya masalah
k.        Keamanan : umunya tidak ditemukan adanya masalah
l.          Seksualitas : kemungkinan dapat ditemukan adanya gangguan seksualitas dan citra tubuh  jika lesi berada di sekitar daerah genetalia
m.      Keseimbangan dan peningkatan hubungan resiko serta interaksi sosial : pada beberapa pasien dapat ditemukan adanya masalah psikologis berupa menarik diri, malu dengan kondisi tubuhnya, tidak menerima keadaannya.


6.         Penyuluhan dan pembelajaran
a.         Bahasa yang dominan yang dipakai : pada proses edukasi, penggunaan bahasa yang dimengerti oleh pasien dapat sangat membantu
b.        Masalah yang telah dijelaskan oleh petugas kesehatan misalnya obat-obatan yang diberikan, serta riwayat apakah pernah melakukan pengobatan sebelumnya dengan menggunakan obat tanpa resep, karena beberapa obat dapat meningkatkan iritasi serta meningkatkan rasa gatal.
c.         Faktor resiko keluarga : jika dalam keluarga pernah ditemukan ada yang menderita skabies, maka anggota keluarga yang lain berisiko menderita skabies juga
7.         Data genogram : dari data tentang struktur keluarga beserta penjelasan ditiap generasinya dapat memberikan gambaran apakah penyakit ini akibat dari penularan sesama anggota keluarga atau akibat dari orang lain

B.       Diagnosa
1.         Pruritus berhubungan dengan iritasi kulit
2.         Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gatal yang dirasakan.
3.         Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan kurang pengetahuan mengenai penyakit.
4.         Resiko perluasan infeksi berhubungan dengan jaringan kulit rusak, menggaruk
5.         Gangguan body image berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder.
6.         Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan garukan.

C.      Implementasi
1.         Pruritus berhubungan dengan iritasi kulit
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan .... x 24 jam terjadi penurunan respons pruritus
Kriteria hasil :
-     Secara subjektif melaporkan keluhan gatal berkurang
-     Lesi berkurang
-     Integritas jaringan kulit membaik
Rencana Tindakan
a.    Kaji karakteristik pruritus
R/ sebagai acuan dalam menentukan intervensi selanjutnya
b.    Anjurkan untuk menghindari mandi dengan air hangat
R/ Mandi dengan air hangat dapat membuat lesi panas dan melepuh
c.    Kolaborasi pemberian antihistamin
R/ dapat mengurangi respons pruritus

2.         Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gatal yang dirasakan.
Tujuan           :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. X 24 jam gangguan pola tidur pasien teratasi dengan
Kriteria evaluasi       :
-     Jumlah jam tidur dalam batas normal
-     Pola tidur, kualitas dalam batas normal
-     Perasaan fresh sesudah tidur/istirahat
-     Mampu mengidentifikasi hal-hal yang meningkatkan tidur
Rencana Tindakan    :
a.    Kaji pola tidur klien.
R/ Mengetahui apakah kebutuhan tidur klien terpenuhi.
b.    Ciptakan suasana yang membuat klien merasa nyaman misal tempat tidur yang bersih dan rapi.
R/ Agar klien bisa istirahat dengan tenang.
c.    Kolaborasi dalam pemberian obat topikal
R/ Untuk mengurangi gatal agar pasien bisa tidur





3.         Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan kurang pengetahuan mengenai penyakit.
Tujuan           :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X 24 jam diharapkan klien tidak cemas lagi.
Kriteria evaluasi :
-             Klien tidak resah
-             Klien tampak tenang dan mampu menerima kenyaataan
-             Klien mampu mengidentifiasi dan mengungkapkan gejala cemas
-             Postur tubuh ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan  bekurangnya kecemasan.
Rencana Tindakan :
a.    Identifikasi kecemasan.
R/ Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.
b.    Gunakan pendekatan yang menyenangkan.
R/ Hal-hal yang menyenangkan dapat membuat klien lebih santai dan rileks.
c.    Dorong keluarga untuk memberikan dukungan.
R/ Agar klien merasa diperhatikan.

4.         Resiko perluasan infeksi berhubungan dengan jaringan kulit rusak, menggaruk
Tujuan           :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X 24 jam diharapkan tidak terjadi penyebaran infeksi pada klien.
Kriteria evaluasi       :
-          Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
-          Klien menunjukkan perilaku hidup sehat
-          Klien dapat mendeskripsikan proses penularan penyakit dan faktor yang mempengaruhi penularan.
Rencana Tindakan:
a.       Monitor tanda dan gejala infeksi
R/ Untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi.

b.      Ajarkan kepada klien tentang pola hidup bersih dan sehat.
R/ Agar klien dapat mengetahui dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Jelaskan kepada klien/keluarga tentang proses penularan penyakit dan faktor yang mempengaruhi penularan.
R/ Agar klien/keluarga dapat mencegah dan menghindari terjadinya penularan penyakit.

5.         Gangguan body image berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder.
Tujuan           :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. X 24 jam gangguan body image pasien teratasi
Kriteria evaluasi :
-          Body image positif
-          Mampu mengidentifikasi kekuatan personal
-          Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh
-          Mempertahankan interaksi sosial
Rencana Tindakan :
a.       Kaji makna kehilangan pada pasien/orang terdekat.
R/ Episode traumatic mengaki- batkan perubahan tiba-tiba, tidak diantipasi membuat perasaan kehilangan sehingga ia memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal.
b.      Terima dan akui ekspresi frustasi ketergantungan, marah, perhatikan perilaku menarik diri dan penggunaan penyangkalan.
R/ Penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan, namun ini akan gagal apabila pasien belum siap menerima situasi tersebut.
c.       Bersikap realistis dan positif selama pengobatan pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan.
R / Meningkatkan dan menjalin rasa saling percaya antara pasien dengan perawat.
d.      Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorongan usaha untuk mengikuti tujuan rehabilitas.
R/ Kata-kata penguatan dapat mendukung.
e.       Dorong interaksi keluarga.
R/ Keluarga dapat jadi penyemangat pasien dalam proses penyembuhan

6.         Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan garukan.
Tujuan           : 
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan Selama ….x 24 jam diharapkan lapisan kulit klien terlihat normal.
Kriteria Hasil :
-        Integritas kulit yang baik dapat dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur)
-        Tidak ada luka atau lesi pada kulit
-        Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit serta perawatan alami
-        Perfusi jaringan baik
Rencana Tindakan
a.       Monitor kulit akan adanya kemerahan.
R/ Untuk mengetahui perkembangan penyakit dan keefektifan tindakan yang telah dilakukan
b.      Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang longgar.
R/ Baju yang longgar akan mengurangi gesekan baju pada kulit yang mengalami lesi.
c.       Potong kuku dan jaga kebersihan tangan klien.
R/ Kuku yang pendek akan mengurangi garukan pada impetigo dan menghindari keparahan terjadinya lesi
d.      Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
R/ Kulit yang bersih dan kering akan mengurangi penyebaran atau perkembangbiakan dari bakteri


e.       Mandikan pasien dengan air hangat dan sabun (antiseptic).
R/ Air hangat akan mengurangi ruam dan membunuh bakteri. Sabun anti septic dapat mengurangi atau membunuh bakteri pada kulit
f.       Kolaborasi untuk pemberian antibiotic topical pada klien
R/ Antibiotic topical dapat memtus atau menghambat dari pertumbuhan bakteri stap dan kolaborasi dapat mempercepat proses pemulihan


























DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, et all. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis
Harahap. M, 2000. Ilmu penyakit kulit. Hipokrates. Jakarta.
Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.

























PENYIMPANGAN KDM
Invasi bakteri
GANGGUAN CITRA TUBUH/BODY IMAGE
Terjadi manifestasi klinik dari penyakit
Histamin meningkat, munculnya vesikel
Kurangnya informasi tentang penyakit dan pengobatan
CEMAS
GANGGUAN POLA TIDUR
PRURITUS
RESIKO PERLUASAN INFEKSI
Terjadi perlukaan baru & parasit menyebar akibat usapan/sentuhan
RAS teraktivasi
Sensasi menggaruk pada daerah yang gatal dan vesikel
Stimulus tidur berkurang/hilang
Perubahan penampilan kulit akibat
Parasit penyebab skabies (Sarcoptes scabiei) masuk ke tubuh melalui kontak langsung/tidak langsung
Kerusakan integritas kulit
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar