Cari Blog Ini

Senin, 06 Maret 2017

Trauma Kepala Cedera Kepala Trauma Capitis





BAB I
KONSEP DASAR MEDIS

A.      Defenisi
Trauma kepala adalah cedera daerah kepala yang terjadi akibat dipukul  atau terbentur benda tumpul. Untuk mengatasi trauma kepala, maka tengkorak kepala sangat berperan penting sebagai pelindung jaringan otak. Cedera pada otak bisa berasal dari trauma langsung atau tidak langsung pada kepala. Trauma tidak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Semua itu berakibat terjadinya akselerasi-deselerasi dan pembentukan rongga. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Kekuatan itu bisa terjadi seketika atau rusaknya otak oleh kompresi, goresan atau tekanan.(Grace & Borley. 2007)
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001).
Cedera kepala pada praktek klinis sehari-hari dikelompokkan atas empat gradasi sehubungan dengan kepentingan seleksi perawatan penderita, pemantauan diagnostik-klinik penanganan dan prognosisnya yaitu:
1.         Tingkat I : Bila dijumpai adanya riwayat kehilangan  kesadaran/pingsan yang sesaat setelah mengalami trauma, kemudian sadar kembali. Pada waktu diperiksa dalam keadaan sadar penuh, orientasi baik dan tidak ada defisit neurologist.
2.         Tingkat II : Kesadaran menurun namun masih dapat mengikuti perintah-perintah yang sederhana, dan dijumpai adanya defisit neurologis vokal.
3.         Tingkat III : Kesadaran yang sangat menurun dan tidak bisa mengikuti perintah (walaupun sederhana) sama sekali. Penderita masih bisa bersuara namun susunan kata-kata dan orientasinya kacau, gaduh serta gelisah. Respon motorik bervariasi dari keadaan yang masih mampu melokalisir rasa sakit sampai tidak ada respon sama sekali. Postur tubuh dapat menampilkan posisi dekortikasi-deserebrasi.
4.         Tingkat IV : Tidak ada fungsi neurologis sama sekali. (Brunner & Suddarth, 2001)
B.       Keparahan Cedera Kepala
Hudak dkk dalam Krisanty (2009) membagi cedera kepala sebagai berikut :
1.         Cedera kepala ringan
a.    Nilai GCS 13-15
b.    Amnesi kurang dari 30 menit
c.    Trauma sekunder dan trauma neurologis tidak ada
d.   Kepala pusing beberapa jam sampai beberapa hari
2.         Cedera kepala sedang
a.    Nilai GCS 9-12
b.    Penurunan kesadaran 30 menit – 24 jam
c.    Terdapat trauma sekunder
d.   Gangguan neurologis sedang
3.         Cedera kepala berat
a.    Nilai GCS 3-8
b.    Kehilangan kesadaran lebih dari 24 jam sampai berhari-hari
c.    Terdapat cedera sekunder: kontusio, fraktur tengkorak , perdarahan dan hematoma intrakranial
C.      Etiologi
Cedera  pada  trauma  dapat  terjadi  akibat  tenaga  dari   luar berupa:
1.    Benturan/jatuh karena kecelakaan
2.    Kompresi/penetrasi baik oleh benda tajam, benda tumpul, peluru dan ledakan panas.
Akibat cedera ini berupa memar, luka jaringan lunak, cedera muskuloskeletal dan kerusakan organ.
D.      Patofisiologi
Mekanisme cedera memegang peranan penting dalam menentukan berat-ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat benda tumpul atau karena terkena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relative tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak. (Prince & Wilson, 1995)
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan mungkin karena memar pada permukaan otak, leserasi substansia alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan auto regulasi serebral (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan intracranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia dan hipotensi. (Prince & Wilson, 1995)
E.       Gambaran / Gejala Klinis
Menurut Agus Purwadianto & Budi Sampurna (2000) gambaran klinis cedera yaitu :
1.         Komosio Cerebri
a.    Penderita pingsan sebentar (kurang dari 10 menit)
b.    Nyeri kepala
c.    Pusing
d.   Mual, muntah
e.    Setelah sadar, penderita menunjukkan gejala-gejala retrograt amnesia (lupa akan kejadian-kejadian pada waktu beberapa saat sebelum terjadinya kecelakaan)
2.         Kontusio Cerebri
a.    Penderita pingsan selama berjam-jam, bahkan berhari-hari sampai berminggu-minggu
b.    Retrograt amnesia lebih berat dan jelas
c.    Ditemukan gejala neurologik yaitu reflek babinski positif serta kelumpuhan nyata
d.   Pada keadaan berat didapatkan denyut nadi yang cepat sekali, suhu badan meningkat, pernapasan chyne strokes dan kesadaran menurun sampai koma.
3.         Perdarahan Epidural
a.    Penderita hanya pingsan sesaat, kemudian sadar kembali akan tetapi beberapa waktu (biasanya 3 x 24 jam) timbul gejala-gejala progresif seperti nyeri kepala hebat, kesadaran menurun dapat sampai koma
b.    Pupil anisokor
c.    Refleks patologik babinski ditemukan unilateral
d.   Ditemukan tanda-tanda gangguan traktus piramidalis seperti hemipareses, refleks tendon yang meninggi dibandingkan dengan sisi kontralateral
4.         Perdarahan Subdural
a.    Nyeri kepala yang makin lama makin berat biasanya di daerah dehidrasi, edema papila nervus optikus (papil edema)
b.    Derajat gangguan kesadaran berbeda-beda tergantung kepada kerusakan yang terdapat di otak.
F.       Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
1.         Scan CT tanpa/dengan kontras : Mengidentifikasi adanya SOL, hemoragic, menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak. Catatan pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24 – 72 jam pasca trauma.
2.         MRI :  Sama dengan scan CT tanpa/dengan menggunakan kontras.
3.         Angiografi cerebral : Menunjukan kelainan sirkulasi cerebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan serta trauma.
4.         Sinar X : Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan, edema), adanya fragmen tulang.
5.         BAER (Brain Auditori Evoked Respons). : Menentukan fungsi korteks dan batang otak.
6.         Pungsi Lumbal, CSS : Dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarachnoid.
G.      Komplikasi
Perdarahan di dalam otak, yang disebut hematoma intraserebral, dapat menyertai cedera kepala tertutup yang berat, atau lebih sering, cedera kepala terbuka. Pada perdarahan di otak, tekanan intrakranial meningkat, dan sel neuron dan vaskular tertekan. Ini adalah jenis cedera otak sekunder. Pada hematoma, kesadaran dapat menurun dengan segera, atau dapat menurun setelahnya ketika hematoma meluas dan edema interstisial memburuk. Perubahan perilaku yang tidak kentara dan defisit kognitif dapat terjadi dan tetap ada. (Corwin, 2009)
H.      Penanganan Cedera Kepala
Penanganan kasus-kasus cedera kepala di unit gawat darurat/emergensi didasarkan atas patokan pemantauan dan penanganan terhadap “6 B”, yakni:
1.           Breathing
Perlu diperhatikan mengenai frekuensi dan jenis pernafasan penderita. Adanya obstruksi jalan nafas perlu segera dibebaskan dengan tindakan-tindakan : suction, inkubasi, trakheostomi. Oksigenasi yang cukup atau hiperventilasi bila perlu, merupakan tindakan yang berperan penting sehubungan dengan edema cerebri.
2.           Blood
Mencakup pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium darah (Hb, leukosit). Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi yang menurun mencirikan adanya suatu peninggian tekanan intracranial, sebaliknya tekanan darah yang menurun dan makin cepatnya denyut nadi menandakan adanya syok hipovolemik akibat perdarahan (yang kebanyakan bukan dari kepala/otak) dan memerlukan tindakan transfusi.
3.           Brain
Penilaian keadaan otak ditekankan terhadap respon-respon mata, motorik dan verbal (GCS). Perubahan respon ini merupakan implikasi perbaikan/perburukan kiranya perlu pemeriksaan lebih mendalam mengenai keadaan pupil (ukuran, bentuk dan reaksi terhadap cahaya) serta gerakan-gerakan bola mata.


4.           Bladder
Kandung kemih perlu selalu dikosongkan (pemasangan kateter) mengingat bahwa kandung kemih yang penuh merupakan suatu rangsangan untuk mengedan sehingga tekanan intracranial cenderung lebih meningkat.
5.           Bowel
Seperti halnya di atas, bahwa yang penuh juga cenderung dapat meninggikan TIK.
6.           Bone
Mencegah terjadinya dekubitus, kontraktur sendi dan sekunder infeksi. (Arif, 2008)
I.         Prognosis
Prognosis setelah cedera kepala sering mendapat perhatian besar, terutama pada pasien dengan cedera berat. Skor GCS waktu masuk rumah sakit memiliki nilai prognostik yang besar: skor pasien 3-4 memiliki kemungkinan meninggal 85% atau tetap dalam kondisi vegetatif, sedangkan pada pasien dengan GCS 12 atau lebih kemungkinan meninggal atau vegetatif hanya 5 – 10%. Sindrom pascakonkusi berhubungan dengan sindrom kronis nyeri kepala, keletihan, pusing, ketidakmampuan berkonsentrasi, iritabilitas, dan perubahan kepribadian yang berkembang pada banyak pasien setelah cedera kepala. Sering kali berturnpang-tindih dengan gejala depresi.












BAB II
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A.      Pengkajian
Data dasar tergantung pada tipe, lokasi dan keparahan cedera dan mungkin dipersulit oleh cedera tambahan pada organ-organ vital. (Doenges, 2000)
1.         Aktivitas/Istirahat
Gejala  : Merasa lemah, lelah, hilang keseimbangan
Tanda : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese quadreplegia, cara berjalan tak tegap. Masalah dalam keseimbangan cedera (trauma) ortopedi, kehilangan tonus otot dan otot spastik.
2.         Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi)
Tanda : Perubahan frekwensi jantung (bradikardia, takikardia yang  diselingi dengan bradikardia dan disritmia).
3.         Integritas Ego
Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau   dramatis).
Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.
4.         Eliminasi
Gejala : Inkontinentia kandungan kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.
5.         Makanan/Cairan
Gejala : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera.
Tanda : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, air liur keluar dan disfagia).
6.         Neurosensori
Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling, baal pada ekstremitas. Perubahan dalam penglihatan seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, fotofobia, gangguan pengecapan dan juga penciuman.
Tanda : Perubahan kesadaran sampai koma. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori), Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri) deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti perintah. Kehilangan penginderaan seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran, wajah tidak simetri, genggaman lemah, tidak seimbang, refleks tendon dalam tidak ada atau lemah, apraksia, hemiparise, quedreplegia, postur (dekortikasi dan deserebrasi), kejang, sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan, kehilangan sensasi sebagian tubuh.
7.         Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda, biasanya lama.
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih.
8.         Pernapasan
Tanda : Perubahan pola napas (apnea yang diselingi oleh hiperventilasi). Napas berbunyi, stridor, tersedak, ronki, mengi positif (kemungkinan karena aspirasi).
9.         Keamanan
Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan.
Tanda : Fraktur/dislokasi.
10.     Gangguan penglihatan
Tanda : Kulit laserasi, abrasi, perubahan warna, seperti “raccoon eye” tanda Batle di sekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma), adanya aliran cairan  (drainase) dari telinga/hidung  (CSS).
11.     Gangguan kognitif.
Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralysis.
Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh.
12.     Interaksi Sosial
Tanda : Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang, disartria, anomia.
B.       Diagnosa Keperawatan
1.    Perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi dan hematom), edema cerebral, penurunan TD/hipoksia
2.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra kranial, trauma
3.    Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neureologis),
4.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif, nyeri
5.    Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif, penurunan kerja sillia, statis cairan tubuh, kekurangan nutrisi, respon inflamasi (penggunaan steroid), perubahan sistem integritas tertutup (kebocoran CSS).
6.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman, tidak mengenal sumber-sumber informasi, kurang mengingat/keterbatasan kognitif
7.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
C.      Intervensi Keperawatan
1.    Perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi dan hematom), edema cerebral, penurunan TD/hipoksia  ditandai dengan  :
Perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan respon motorik, sensorik, gelisah, perubahan tanda vital
Tujuan : Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi dan fungsi motorik/sesnsorik.
Kriteria : Tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Intervensi :
a.         Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.
R/ :  Menentukkan pilihan intervensi, penurunan tanda gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukan bahwa pasien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk memantau TIK dan atau pembedahan.
b.         Pantau/catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (misalnya Skala Coma Glascow).
R/ :    Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam  menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
c.         Pantau TTV
-       Catat adanya hipertensi sistolik secara terus menerus dan nadi yang semakin berat, observasi terhadap hipertensi pada pasien yang mengalami trauma multiple.
R/ : Normalnya, autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan pada saat  ada fluktasi tekanan darah sistemik. Kehilangan autoregulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi cerebral lokal atau menyebar. Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastole merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK, jika diikuti oleh penurunan tingkat kesadaran. Hipovolemia/hipertensi dapat juga mengakibatkan kerusakan/iskemia cerebral.
-       Frekwensi jantung, catat adanya bradikardia, takikardia atau bentuk disritmia lainnya.
R/ : Perubahan pada ritme (paling sering bradikaria) dan disritmia dapat timbul yang mencerminkan adanya depresi/trauma pada batang otak pada pasien yang tidak mempunyai kelainan jantung sebelumnya.
-       Pantau pernapasan meliputi pola dan iramanya, seperti adanya periode apnue setelah hiperventilasi yang disebut pernapasan cheynestokes.
R/ : Napas yang tidak teratur dapat menunjukkan adanya gangguan cerebral/peningkatan TIK dan memerlukan intervensi yang lebih lanjut termasuk kemungkinan dukungan napas buatan.
d.        Evaluasi keadaan pupil, catat ukuran, ketajaman, kesamaan antara kiri dan kanan dan reaksinya terhadap cahaya.
R/ : Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (N.III) dan berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik. Ukuran/kesamaan ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis. Respon terhadap cahaya mencerminkan fungsi yang terkoordinasi dari saraf cranial optikus dan okulomtorius.
e.         Kaji perubahan pada penglihatan, seperti adanya penglihatan yang kabur, ganda, lapang pandang menyempit dan kedalaman persepsi.
R/ : Gangguan penglihatan, yang dapat diakibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak, mempunyai konsekwensi terhadap keamanan dan juga akan mempengaruhi pilihan intervensi.
f.          Kaji letak/gerakan mata, catat apakah  pada posisi tengah atau ada deviasi pada satu sisi atau ke bawah. Catat pula hilangnya refleks  dolls  eye.
R/ : Posisi dan gerakan mata membantu menemukan lokasi area otak yang terlibat. Tanda awal dari peningkatan TIK adalah kegagalan dalam abduksi pada mata, mengindikasikan penekanan/trauma pada saraf cranial V. Hilangnya dolls eye mengindikasikan adanya penurunan pada fungsi batang otak dan prognosisnya jelek.
g.         Catat ada tidaknya refleks-refleks tertentu seperti refleks menelan, batuk,  babinski dan sebagainya.
R/ : Penurunan refleks menandakan adanya kerusakan pada tingkat otak tengah atau batang otak dan sangat berpengaruh langsung terhadap pasien. Refleks Babinski positif mengindikasikan adanya trauma sepanjang jalur piramida pada otak
h.         Pertahankan kepala/leher pada posisi tengah/posisi netral, sokong dengan gulungan handuk kecil. Hindari pemakaian bantal besar pada kepala.
R/ : Kepala yang miring pada satu sisi  akan menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan TIK.
i.           Kolaborasi :
-       Tinggikan kepala pasien 15 – 45 derajat sesuai indikasi yang dapat ditoleransi.
R/ : Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan edema atau risiko terjadinya peningkatan TIK.
-       Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
R/ : Menurunkan hipoksemia, yang mana dapat meningkatkan  vasodilatasi dan volume darah cerebral yang meningkatkan TIK.
-       Berikan obat sesuai indikasi.
R/ : mempercepat proses penyembuhan

2.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra kranial, trauma
Tujuan : Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria : Pasien mengatakan nyeri berkurang. Pasien menunjukan skala nyeri pada angka 3. Ekspresi wajah klien rileks.
a.       Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya, lokasinya dan lamanya.
R/ Mengidentifikasi karakteristik nyeri merupakan faktor yang penting untuk menentukan terapi yang cocok serta mengevaluasi keefektifan dari terapi.
b.      Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya adanya infeksi, trauma servikal.
R/ Pemahaman terhadap penyakit yang mendasarinya membantu dalam memilih intervensi yang sesuai.
c.       Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam
R/: teknik nafas dalam dapat menurunkan nyeri
d.      Beri kompres dingin pada kepala
R/ Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.  
e.       Kolaborasi pemberian analgetik
R/ untuk mengurangi nyeri akibat trauma
3.    Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neureologis), ditandai dengan :
Disorientasi waktu, tempat dan orang, perubahan dalam respons terhadap rangsang, inkoordinasi motorik, perubahan dalam postur, ketidakmampuan untuk memberitahu posisi bagian tubuh (propiosepsi,), perubahan pola komunikasi, distorsi audiotorius dan visual, konsentrasi buruk, perubahan proses berpikir/berpikir kacau.
Tujuan : Melakukan kembali/mempertahankan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.
Kriteria : Mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya    keterlambatan residu. Mendemonstrasikan perubahan perilaku/gaya hidup untuk mengkompensasi/defisit hasil.
Intervensi :
a.         Evaluasi/pantau secara teratur perubahan orientasi, kemampuan berbicara, alam perasaan/afektif, sensorik dan proses pikir
R/ :    Fungsi cerebral bagian atas biasanya terlebih dahulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi. Kerusakan dapat terjadi saat trauma awal atau kadang-kadang berkembang setelahnya akibat dari pembengkakan atau perdarahan. Perubahan motorik, persepsi, kognitif dan kepribadian mungkin berkembang dan menetap dengan perbaikan respons secara perlahan-lahan atau tetap bertahan secara terus menerus pada derajat tertentu.
b.         Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan, panas/dingin, benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh. Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain.
R/ :    Informasi penting untuk keamanan pasien. Semua sistem sensorik dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau penurunan sensitivitas atau kehilangan  sensasi/kemampuan untuk menerima dan berespons secara sesuai pada suatu stimuli.
c.         Hilangkan suara bising/stimuli yang berlebihan sesuai kebutuhan
R/ : Menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan/bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan.
d.        Buat jadwal istirahat yang adekuat/periode tidur tanpa adanya gangguan.
R/ :    Mengurangi kelelahan, mencegah kejenuhan, memberikan kesempatan untuk tidur REM (ketidak adanya tidur REM ini dapat meningkatkan gangguan persepsi sensorik).
e.         Gunakan penerangan siang atau malam hari.
R/ :    Memberikan perasaan normal tentang pola perubahan waktu dan     pola tidur/bangun.
f.          Kolaborasi :
Rujuk pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara dan terapi kognitif.
R/ :    Pendekatan antar disiplin dapat menciptakan rencana penatalaksanaan terintegrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus  pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik dan keterampilan perceptual.

4.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif, nyeri ditandai dengan : ketidakmampuan bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik, termasuk mobilitas ditempat tidur, pemindahan, ambulasi. Kerusakan koordinasi, keterbatasan rentang gerak, penurunan kekuatan kontrol otot, nyeri saat bergerak
Tujuan : Melakukan kembali/mempertahankan posisi fungsi optimal dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur, footdrop.
Kriteria hasil :  Mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit dan/atau kompensasi. Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan dilakukannya kembali aktivitas. Mempertahankan integritas kulit, kandung kemih dan fungsi usus.
Intervensi :
a.         Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan  yang terjadi.
R/ : Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan.
b.         Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4).
R/ : Pasien mampu mandiri (nilai 0) atau memerlukan bantuan/peralatan yang minimal (nilai 1), memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan (nilai 2), memerlukan bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat khusus (nilai 3) atau tergantung secara total pada pemberi asuhan (nilai 4). Seseorang dalam semua kategori sama-sama mempunyai risiko kecelakaan, namun kategori dengan nilai 2 – 4 mempunyai risiko yang terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan imobilisasi.
c.         Beri/bantu untuk melakukan latihan rentang gerak.
R/ : Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis.
d.        Berikan perawatan kulit yang cermat, masase dengan pelembab dan ganti linen/pakaian yang basah dan pertahankan linen tersebut tetap bersih dan bebas dari kerutan (jaga tetap tegang).
R/ : Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan risiko  terjadinya ekskoriasi kulit.
e.         Pantau pengeluaran urine. Catat warna dan bau dari urine. Bantu dengan latihan kandung kemih jika memungkinkan.
R/ : Pemakaian kateter Foley selama fase akut memungkinkan dibutuhkan untuk jangka waktu yang panjang sebelum memungkinkan untuk dilakukan latihan kandung kemih. Saat kateter dilepas, beberapa metode kontrol dapat dicoba seperti kateterisasi intermiten (selama pengosongan sebagian atau seluruhnya), kateter eksternal, interval di atas pispot memberikan duk inkontinen.
f.          Berikan cairan dalam batas-batas yang dapat ditoleransi (contoh toleransi neurologis dan jantung).
R/ : Sesaat setelah fase akut cedera kepala dan jika pasien tidak memiliki faktor kontraindikasi yang lain, pemberian cairan yang memadai akan menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih/batu ginjal/batu kandung kemih dan berpengaruh cukup baik terhadap konsistensi feses yang normal dan turgor kulit menjadi optimal.

5.    Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif, penurunan kerja sillia, statis cairan tubuh, kekurangan nutrisi, respon inflamasi (penggunaan steroid), perubahan sistem integritas tertutup (kebocoran CSS).
Tujuan : Mempertahankan normotermia, bebas tanda-tanda infeksi, mencapai penyembuhan luka tepat waktu bila ada.
Intervensi :
a.         Kaji daerah kulit yang mengalami kerusakan (seperti luka, garis jahitan), daerah yang terpasang alat invasi (terpasang infus dan sebagainya), catat karakterisitik dari drainase dan adanya inflamasi.
R/ :    Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya.
b.         Berikan perawatan aseptik dan antiseptik, pertahankan teknik cuci tangan yang baik.
R/ :  Cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial.
c.         Pantau suhu tubuh secara teratur. Catat adanya demam, mengigil, diaforosis dan perubahan fungsi mental (penurunan kesadaran).
R/ : Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera.
d.        Berikan perawatan perineal, pertahankan integritas dan sistem drainase urine tertutup jika menggunakannya serta anjurkan untuk minum adekuat.
R/ : Menurunkan kemungkinan terjadinya pertumbuhan bakteri atau infeksi yang merambah naik.
e.         Batasi pengunjung yang dapat menularkan infeksi atau cegah pengunjung yang mengalami infeksi saluran bagian atas.
R/ :    Menurunkan pemajanan terhadap “pembawa kuman penyebab infeksi”
f.          Kolaborasi :
-       Berikan antibiotik sesuai indikasi.
R/ : Terapi profilaktik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma (perlukaan), kebocoran CSS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi nosokomial.
-       Ambil bahan pemeriksaan (spesimen) sesuai indikasi.
R/ : Kultur/sensitivitas, pewarnaan gram. Gram dapat dilakukan untuk memastikan adanya infeksi dan mengidentifikasi organisme penyebab dan untuk menentukan obat pilihan yang sesuai.

6.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman, tidak mengenal sumber-sumber informasi, kurang mengingat/keterbatasan kognitif ditandai dengan meminta informasi, pernyataan salah konsepsi dan ketidak akuratan mengikuti instruksi.
Tujuan :
a.         Berpartisipasi dalam proses belajar.
b.         Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, aturan pengobatan dan potensial komplikasi.
c.         Melakukan prosedur yang diperlukan dengan benar.
Intervensi  :
a.         Evaluasi kemampuan dan kesiapan untuk belajar dari pasien dan juga keluarganya.
R/ :    Memungkinkan untuk menyampaikan informasi yang didasarkan atas kebutuhan.
b.         Berikan kembali informasi yang berhubungan dengan proses trauma dan pengaruh sesudahnya.
R/ :    Membantu dalam menciptakan harapan yang realistis dan  meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini.
c.         Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
R/ :    Berbagai tingkat bantuan perlu direncanakan yang didasarkan atas kebutuhan yang bersifat individual.
d.        Berikan instruksi dalam bentuk tulisan dan jadwal mengenai aktivitas, obat-obatan dan faktor-faktor penting lainnya.
R/ :    Memberikan penguatan visual dan rujukan setelah sembuh.
e.         Diskusikan dengan pasien dan orang terdekat perkembangan dari gejala seperti munculnya tanda dan gejala yang pernah dialaminya saat trauma terjadi (pikiran melayang, pikiran kacau, mimpi berulang/mimpi buruk), emosi/fisik yang sulit berespon, perubahan gaya hidup termasuk adaptasi dan tingkah laku yang merusak.
R/ : Dapat menjadi tanda adanya eksaserbasi respon pasca traumatik yang dapat terjadi dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun setelah mengalami trauma.

7.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Tujuan : pola tidur efektif
Kriteria hasil : Melaporkan tidur nyenyak. Klien tidur 8-10 jam semalam. Klien tampak segar
Intervensi:
a.         Kaji pola tidur klien
       R/: Mengetahui kebiasaan tidur klien, mengetahui gangguan yang dialami, memudahkan intervensi selanjutnya
b.         Berikan bantal yang nyaman
       R/: Meningkatkan kenyamanan meningkatkan pemenuhan istirahat tidur
c.         Berikan lingkungan yang nyaman, batasi pengunjung
R/: Mengurangi stimulus yang dapat mengganggu istirahat tidur
d.        Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam/masase punggung sebelum tidur
R/: Meningkatkan relaksasi menstimulasi istirahat tidur yang nyaman



DAFTAR PUSTAKA

Grace & Borley. 2007. At a Galance Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta. Erlangga
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Edisi 3. Jakarta :EGC.
Kristanty, Paula. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : Trans Info Media
Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC
Suriadi, Yuliani, Rita. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Fajar Interpratama,
Doengoes, Marilyn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar